The Millennial Dilemma: Pursuing Passion in a Practical World

Agile Innovation Labs
3 min readJan 30, 2023
Photo by Helena Lopes on Unsplash

“Passion for work is the intense enthusiasm and excitement for what you do” — jobberman.com

Banyak dari kita terkesan ‘terjebak’ dengan kata ‘passion’. Umumnya fenomena ini terjadi pada generasi millenial seperti penulis yang lahir pada tahun ‘90-an (generasi millennial 1981–1996). Generasi yang sering mencari jawaban atas pertanyaan dengan pertanyaan andalannya ‘Why?’. Bagi penulis, jawaban atas pertanyaan tersebut, dapat dijadikan sebuah alasan untuk tetap bertahan atau bahkan keluar dari zona yang sedang digeluti, termasuk pekerjaan.

Bagi sebagian orang yang merupakan generasi millennials, kata passion merupakan ‘angin segar’ bagi kami yang sedang mencari jalan menuju tujuan (goals) yang diinginkan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Departement26 terkait alasan pekerja millennials dalam memilih pekerjaan. 44% menyatakan, millennials memilih pekerjaan berdasarkan peran yang mereka sukai (passion about it), juga mengalahkan keinginan terhadap uang sebesar 42%.

Generasi millenials dengan sukarela melakukan kegiatan maupun pekerjaan yang berhubungan (relate) dengan keminatan atau bahkan passion mereka, apalagi kegiatan tersebut memiliki nilai (value) yang sesuai dengan tujuan hidupnya. Workaholic, begitu mereka digambarkan, karena terlalu asyik dengan pekerjaan yang digeluti. Harapannya mereka memiliki impact yang besar dalam melakukan kegiatan yang mereka geluti.

Di sisi lain, generasi ini akan dengan mudah melepas pekerjaannya jika tidak sesuai dengan harapan atau ekspektasi yang dibayangkan. Hal inilah yang membuat mereka mudah berganti tempat kerja dan berasumsi mendapatkan ‘pekerjaan yang lebih baik’. Mendapatkan pekerjaan lebih baik jika memiliki kemampuan (skill) yang kompeten akan memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Bagaimana dengan mereka yang tidak seberuntung itu?

Maka, kata realistislah yang kemudian muncul untuk terus menjalani hidup. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, terkadang dipilih oleh millenials. Mengenyampingkan passion untuk segera memenuhi kebutuhan hidup. Mengubur dalam passion? Tentu tidak. Menunda untuk berlari seperti biasanya adalah yang dilakukan. Bahkan, terkadang ada yang baru merasa menemukan passion yang berbeda dari pekerjaannya setelah hampir 5 tahun bekerja.

Apakah itu menyedihkan? Justru tidak, itulah pintu awal bagi mereka yang menyukai tantangan baru untuk switch career. Bahkan kadang, passion dijadikan side hustle bagi generasi millenials yang ‘terjebak’ bukan pada pekerjaan impian. Banyak jalan menuju Roma, begitulah perjalanan millennials dalam mencapai tujuannya tanpa melupakan value yang ada di dalam dirinya.

Salah satu cara mengasah passion yang baru ditemukan, bisa dilakukan dengan cara mengikuti pelatihan yang mendukung skill di bidang yang disukai. Pelatihan yang diselenggarakan oleh para Expert di bidangnya, menjadikan peserta lebih banyak mendapatkan insight langsung dari para praktisi. Social Innovation Hub Indonesia, selaku inkubator dan akselerator mempunyai beragam program seperti Digital Social Innovation Boothcamp (DSIB), I3 dan Impact Xcelerate (IX) yang memfasilitasi masyarakat untuk menembuhkan passionnya di bidang inovasi. Passion ini akan ditumbuhkan, diinkubasi, didampingi dan diakselerasi menjadi sebuah bisnis yang bisa menopang kehidupan secara berkelanjutan.

Ditulis oleh:
Firda Shabrina
Researcher at Innovation Learning
Social Innovation Hub Indonesia

Sumber:
https://www.theladders.com/career-advice/survey-millennials-want-passion-more-than-money
https://www.forbes.com/sites/stevedenning/2015/09/04/should-millennials-follow-their-passion/?sh=12d21935f994
https://leaders.com/articles/company-culture/millennials-in-the-workplace/#h-millennials-and-work-common-generational-characteristics
https://www.cnbc.com/2022/09/22/whatll-stop-gen-z-millennials-from-quitting-according-to-microsoft-.html

--

--