Quiet atau Loud Listening. Mana Yang Lebih Baik?

Photo by Jason Rosewell on Unsplash

Pernahkah Anda merasa ‘gatal’ saat mendengarkan rekan dalam satu tim memaparkan idenya? Atau merasa ‘gatal’ saat ide yang dipaparkan dikritik habis oleh rekan Anda? Bisa jadi, ada yang perlu kita renungkan bersama. Mengapa rasanya memotong pembicaraan orang lain saat diskusi bisa dibilang ‘menyenangkan’? Apakah benar, mendengar sesulit itu?

Jika ditelaah lebih lanjut, masalah mendengar bukan hal yang sulit, jika ego tidak ikut bermain atau diri merasa ‘terancam’ ketika berdiskusi. Padahal mendengarkan seseorang mengemukakan idenya maupun menerima kritikan dari orang lain merupakan kesempatan yang langka jika dipahami lebih dalam.

Listening memiliki proses yang lebih jauh, yaitu mendengarkan dengan fokus, lalu memproses pesan yang disampaikan, mengevaluasi pesannya, dan memberikan respon dari pemaparan yang diberikan. Terkadang, proses inilah yang membuat mendengarkan terasa lebih sulit. Terlebih lagi, jika kita merasa ilmu yang dimiliki lebih banyak daripada yang memaparkan.

Lalu, bagaimana cara mendengarkan yang baik? Atau mungkinkah budaya mendengarkan diaplikasikan pada organisasi kita? Mungkin saja budaya ini diaplikasikan pada organisasi kita, tapi dengan cara yang berbeda. Dalam bukunya, Radical Candor, Kim Scott mengatakan ada dua cara berbeda yang digunakan oleh perusahaan raksasa di dunia yaitu Apple dan Google dalam mendengarkan.

Apple menerapkan “Quiet Listening” dalam mendengarkan ide seseorang. Cara ini dianggap efektif dengan mendengarkan semua paparan anggota Anda, lalu setelah selesai baru ditanggapi. Ditanggapinya pun, bukan dalam bentuk ingin membalas dendam tapi, inti dari masalah yang dipaparkan.

Cara ini pernah diterapkan oleh murid Kim Scott dalam kegiatan meeting one on one yang akan membiarkan anggotanya berbicara selama 10 menit. Apa tanggapannya? Di lima menit pertama, dia akan mendengarkan hal yang tidak diinginkan, tapi di menit selanjutnya mereka akan menjelaskan inti dari masalah yang ingin dipecahkan.

Sedangkan Google menerapkan cara “Loud Listening”. Berbeda dengan sebelumnya, tipe mendengarkannya dengan cara menanggapi pembicara menggunakan kalimat yang ‘mengejutkan’ untuk melihat reaksinya. Biasanya kalimat yang digunakan dalam bentuk tantangan untuk merealisasikan ide yang dipaparkan.

Dalam daily meeting di Google, akan ada banyak perdebatan untuk menentukan ide yang paparkan layak untuk dieksekusi atau tidak. Eric Schmidt, CEO Google dalam wawancaranya dengan wartawan sebuah majalah mengatakan, dia akan hadir dalam setiap daily meeting untuk mendengarkan dan memberi tanggapan mengenai ide yang akan direalisasikan.

Tidak semua orang cocok dengan gaya mendengar seperti ini, karena butuh keberanian dan berani menerima tantangan untuk menanggapinya. Bagi orang yang memiliki gaya mendengar loud listening, perlu membangun kepercayaan yang lebih pada setiap anggotanya, agar mereka lebih nyaman dalam mengekspresikan idenya dan mengambil tantangan yang diberikan.

Menerapkan budaya mendengar bukan hal yang mudah, jika sebelumnya tidak ada budaya tersebut di dalam organisasi Anda. Tapi, dengan membiasakan tim untuk memaparkan idenya atau keluhannya, menanyakan lebih rinci terkait masalah yang dihadapi, dan memastikan masalah akan ditanggapi dengan cepat, mungkin budaya ini akan tumbuh dengan sendirinya.

Selain itu, seperti pembahasan sebelumnya mengenai trust (percaya), jika anggota tim Anda sudah percaya dengan langkah-langkah yang ditawarkan, budaya tersebut akan mudah untuk diterapkan.

Mari terus belajar menjadi pendengar yang baik.

Firda Shabrina
Innovation Learning Researcher
Social Innovation Hub Indonesia

Sumber:
Kim Scott. 2019. Radical Candor
https://www.researchgate.net/publication/328653076_Listening_as_a_lifelong_learning_skill-_what_why_and_how
https://www.wired.com/2007/04/my-other-interv/

--

--

Advancing Transformation Through Technology

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store